CERPEN: " Lorong Belakang Sekolah"
Oleh: SBS Valid
Lorong Belakang Sekolah
Sekolah itu sudah berdiri sejak zaman Belanda. Gedungnya tua, temboknya kusam, dan lorong belakangnya jarang dilewati siapa pun—kecuali kalau terpaksa.
Namanya Dio, siswa kelas XI yang terkenal cuek dan pemberani. Suatu hari, ia ditantang teman-temannya untuk mengambil bola basket yang tak sengaja terlempar ke lorong belakang.
“Ambil aja, Dio. Nggak usah takut. Hantu itu cuma cerita,” ejek Rendi.
Dio mengangguk santai. “Oke, lihat aja, gue balik dalam lima menit.”
Dengan tangan dimasukkan ke saku jaketnya, Dio melangkah ke lorong itu. Udara langsung berubah dingin. Padahal hari itu panas terik.
Lorong itu sempit, berlumut, dan bau apek. Cahaya dari jendela pecah memantul samar di lantai yang lembab. Saat Dio menunduk mengambil bola, ia mendengar suara langkah—cepat, berat, dan menyeret.
“Siapa itu?” tanyanya sambil menoleh.
Tidak ada siapa-siapa. Tapi ada bayangan... bukan bayangan dirinya.
Bayangan itu menggantung di dinding, seperti seseorang yang berdiri diam... tanpa kepala.
Tiba-tiba lampu lorong berkedip, dan suara perempuan menangis terdengar dari arah ruang UKS yang kosong.
Dio membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ketika ia melangkah mundur, tangan dingin mencengkeram bahunya dari belakang.
Ia menjerit dan melempar bola. Suaranya menggema, lalu sunyi.
Teman-temannya menunggu di lapangan, tapi Dio tak pernah kembali.
Bola basket itu ditemukan keesokan harinya... di depan ruang guru, berlumuran tanah dan bercak merah.
Unsur Intrinsik Cerpen:
-
Tema: Keberanian yang berujung petaka.
-
Tokoh: Dio (tokoh utama), Rendi & teman-teman (tokoh pendukung), sosok misterius di lorong.
-
Latar: Sekolah tua, lorong belakang, siang hari.
-
Alur: Maju, dengan klimaks horor saat Dio bertemu “sosok tak berkepala”.
-
Sudut pandang: Orang ketiga terbatas (fokus pada Dio).
-
Amanat: Keberanian tanpa kehati-hatian bisa membawa bahaya.
Comments
Post a Comment