Skip to main content

Materi Bahasa Indonesia Kelas IX SMP_PJJ_ Januari 2026

Majas pleonasme 

adalah jenis majas yang menggunakan kata-kata berlebih atau berulang untuk menegaskan maknanya. Contohnya termasuk ungkapan seperti "Dia sudah turun ke bawah" yang menunjukkan penggunaan kata yang sebenarnya tidak diperlukan. Ciri-ciri dari majas pleonasme adalah menambahkan keterangan pada kalimat yang sudah jelas, sehingga membuat kalimat terdengar lebih kuat dan jelas.


Kalimat efektif 

adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan dengan jelas, tepat, dan mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar.

Ciri-Ciri Kalimat Efektif


Syarat-Syarat Kalimat Efektif

Contoh Kalimat Efektif


Kata Sapaan 
Kata Sapaan dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyapa atau menegur orang lain dalam interaksi sehari-hari. Berikut adalah beberapa contoh kata sapaan yang umum digunakan.

Contoh Kata Sapaan

  1. Sapaan Umum:
  • HaloDigunakan dalam situasi informal untuk menyapa teman atau kenalan.
  • Selamat pagiDigunakan untuk menyapa orang di pagi hari.
  • Selamat siangDigunakan untuk menyapa orang di siang hari.
  • Selamat soreDigunakan untuk menyapa orang di sore hari.
  • Selamat malamDigunakan untuk menyapa orang di malam hari.
  1. Sapaan Formal:
  • BapakDigunakan untuk menyapa pria dewasa dengan rasa hormat.
  • IbuDigunakan untuk menyapa wanita dewasa dengan rasa hormat.
  • Saudara/SaudariDigunakan dalam konteks formal untuk menyapa orang yang tidak dikenal dengan sopan.
  1. Sapaan Santai:
  • BroDigunakan untuk menyapa teman pria dalam konteks santai.
  • SisDigunakan untuk menyapa teman wanita dalam konteks santai.
  • MasSapaan untuk pria yang lebih muda atau sebaya.
  • MbakSapaan untuk wanita yang lebih muda atau sebaya.
  1. Sapaan Khusus:
  • SayangDigunakan untuk menyapa orang terkasih.
  • CintakuSapaan yang lebih intim untuk pasangan.
  • SahabatDigunakan untuk menyapa teman dekat.

Penggunaan dalam Kalimat




Macam dan Jenis Kata Ganti

1. Kata Ganti Orang (Pronomina Persona)

Kata ganti orang menunjukkan pelaku atau pihak yang terlibat dalam tuturan. Jenis ini dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga.

  • Orang pertama tunggal: saya, aku, daku, -ku
  • Orang pertama jamak: kami, kita
  • Orang kedua tunggal: kamu, engkau, dikau, Anda
  • Orang kedua jamak: kalian
  • Orang ketiga tunggal: dia, ia, beliau, -nya
  • Orang ketiga jamak: mereka

10 contoh penggunaan kata ganti orang:

  1. Saya membaca buku di perpustakaan.
  2. Aku menulis surat untukmu.
  3. Kami akan menghadiri rapat sore ini.
  4. Kita perlu bekerja sama dalam proyek ini.
  5. Kamu harus belajar lebih giat.
  6. Engkau adalah sahabat terbaikku.
  7. Dia datang tepat waktu.
  8. Beliau merupakan dosen yang dihormati.
  9. Mereka sedang bermain bola di lapangan.
  10. Bukunya tertinggal di meja.

Kata ganti orang menunjukkan relasi sosial yang penting. Misalnya, “Anda” digunakan dalam konteks formal, sedangkan “kamu” lebih santai dan akrab. Pilihan kata ganti ini mencerminkan kesantunan berbahasa sebagaimana dijelaskan oleh Brown dan Levinson (1987) dalam teori kesopanan linguistik.


2. Kata Ganti Penunjuk (Demonstrativa)

Kata ganti penunjuk berfungsi menunjukkan tempat, waktu, atau benda. Dalam bahasa Indonesia, kata ganti penunjuk dibedakan menjadi tiga bentuk utama: iniitu, dan anu.

10 contoh kata ganti penunjuk:

  1. Buku ini sangat menarik.
  2. Pensil itu sudah tumpul.
  3. Apa maksud dari pernyataan ini?
  4. Rumah itu tampak tua.
  5. Anu, saya lupa namanya.
  6. Mobil itu milik tetangga saya.
  7. Kursi ini baru dibeli kemarin.
  8. Tas itu hilang di stasiun.
  9. Anak-anak itu bermain bola.
  10. Pakaian ini terlalu besar.

Menurut Verhaar (2012), kata ganti penunjuk tidak hanya bersifat deiktik, tetapi juga kontekstual karena maknanya bergantung pada situasi ujaran.


3. Kata Ganti Penghubung (Relatif)

Kata ganti penghubung menghubungkan klausa bawahan dengan klausa utama dalam kalimat majemuk. Contohnya adalah yang.

10 contoh kata ganti penghubung:

  1. Buku yang saya baca sangat menarik.
  2. Orang yang berdiri di sana adalah guru saya.
  3. Rumah yang dicat putih itu milik pamanku.
  4. Film yang kami tonton kemarin sangat lucu.
  5. Lagu yang kamu nyanyikan membuatku terharu.
  6. Anak yang rajin pasti berhasil.
  7. Pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan berbuah baik.
  8. Gambar yang tergantung di dinding itu karya pelukis terkenal.
  9. Novel yang diterbitkan tahun ini mendapat banyak penghargaan.
  10. Surat yang kamu kirim sudah diterima.

Fungsi kata yang sangat dominan dalam struktur kalimat majemuk karena menjaga kohesi antarbagian kalimat (Alwi dkk., 2014).


4. Kata Ganti Tak Tentu (Indefinit)

Kata ganti tak tentu digunakan untuk menyebut sesuatu yang tidak spesifik atau belum jelas. Contohnya meliputi seseorang, sesuatu, siapa pun, apa pun, dan barang siapa.

10 contoh kata ganti tak tentu:

  1. Seseorang mengetuk pintu.
  2. Sesuatu jatuh dari meja.
  3. Barang siapa bekerja keras akan berhasil.
  4. Siapa pun boleh ikut lomba ini.
  5. Apa pun yang terjadi, aku tetap di sini.
  6. Seseorang memberi pesan penting.
  7. Tiap orang harus bertanggung jawab.
  8. Setiap orang memiliki hak yang sama.
  9. Apa saja bisa dijadikan bahan penelitian.
  10. Siapa saja boleh berpendapat.

Kata ganti tak tentu memperlihatkan ketidaktertentuan referen dan sering digunakan dalam konteks umum atau formal.


5. Kata Ganti Tanya (Interogativa)

Kata ganti tanya digunakan untuk menanyakan orang, benda, waktu, tempat, dan sebab. Contohnya: siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana.

10 contoh kata ganti tanya:

  1. Siapa yang datang ke rumahmu?
  2. Apa yang sedang kamu baca?
  3. Di mana kamu lahir?
  4. Kapan acara itu dimulai?
  5. Mengapa kamu sedih?
  6. Bagaimana cara membuat kue ini?
  7. Siapa nama guru baru itu?
  8. Apa tujuan penelitian ini?
  9. Di mana kamu membeli baju itu?
  10. Kapan kamu pulang kampung?

Dalam perspektif semantik, kata ganti tanya bersifat terbuka karena memungkinkan berbagai jawaban berdasarkan konteks ujaran (Kridalaksana, 2008).


6. Kata Ganti Kepemilikan

Kata ganti kepemilikan menunjukkan hubungan milik antara penutur dengan benda yang dimiliki. Kata ganti ini biasanya berupa imbuhan -ku, -mu, dan -nya.

10 contoh kata ganti kepemilikan:

  1. Bukuku hilang di kelas.
  2. Pensilmu terjatuh.
  3. Tasnya ketinggalan di mobil.
  4. Rumahku dekat kampus.
  5. Ayahmu bekerja di kantor pos.
  6. Ibunya guru di sekolah itu.
  7. Sepedaku berwarna biru.
  8. Laptopmu baru, ya?
  9. Bukunya tebal sekali.
  10. Pulpenku habis tintanya.

Kata ganti kepemilikan berfungsi menjaga kehematan dalam kalimat, sekaligus memperkuat hubungan antara subjek dan objek dalam struktur sintaksis.


Peran Kata Ganti dalam Kohesi Teks

Dalam analisis wacana, kata ganti memiliki fungsi kohesif yang sangat penting. Halliday dan Hasan (1976) menjelaskan bahwa kohesi leksikal dan gramatikal, termasuk kata ganti, membantu pembaca memahami keterkaitan antarkalimat. Misalnya, penggunaan kata ganti “ia” dan “-nya” memungkinkan pembaca mengikuti alur gagasan tanpa kebingungan. Oleh karena itu, penggunaan kata ganti yang tepat meningkatkan kejelasan dan keefektifan teks.


Kesalahan Umum dalam Penggunaan Kata Ganti

Banyak penutur bahasa Indonesia sering melakukan kesalahan dalam penggunaan kata ganti. Kesalahan tersebut meliputi penggunaan ganda (saya aku), ketidaksesuaian bentuk jamak (mereka-mereka), dan kekeliruan penunjukan referen (dia digunakan untuk benda). Kesalahan ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap fungsi semantis dan pragmatik kata ganti.

Dalam konteks akademik, penggunaan kata ganti yang salah dapat menurunkan kualitas tulisan ilmiah. Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk mengikuti pedoman Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi dkk., 2014) agar tulisan tetap sesuai kaidah.


Kesimpulan

Kata ganti dalam bahasa Indonesia merupakan unsur gramatikal yang esensial karena berperan dalam efektivitas komunikasi, kejelasan makna, dan kesantunan berbahasa. Jenis-jenis kata ganti mencakup kata ganti orang, penunjuk, penghubung, tak tentu, tanya, dan kepemilikan. Setiap jenis memiliki fungsi dan konteks penggunaan yang khas. Pemahaman mendalam terhadap kata ganti membantu penutur berkomunikasi secara lebih efektif dan sesuai dengan norma bahasa yang berlaku. Dengan demikian, pembelajaran kata ganti tidak hanya penting untuk tata bahasa, tetapi juga untuk memperkaya kemampuan pragmatik dan wacana penutur bahasa Indonesia.


Pengertian dan jenis-jenis Makna Kata dalam Bahasa Indonesia

Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:19).
Kata-kata yang bersal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya, dari segi makna yang dapat menumbuhkan resksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu.

Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan pengertian makna kata, yakni makna donatif, makna konotatif, makna leksikal, makna gramatikal.

Makna Denotatif

Sebuah kata mengandung kata denotatif, bila kata itu mengacu atau menunjukan pengertian atau makna yang sebenarnya. Kata yang mengandung makna denotative digunakan dalam bahasa ilmiah, karena itu dalam bahasa ilmiah seseorang ingin menyampaikan gagasannya. Agar gagasan yang disampaikantidak menimbulkan tafsiran ganda, ia harus menyampaikan gagasannya dengan kata-kata yang mengandung makna denotative.

Makna denotatif ialah makna dasar, umum, apa adanya, netral tidak mencampuri nilai rasa, dan tidak berupa kiasan Maskurun (1984:10).

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit maka wajar, yang berarti mkna kat ayang sesuai dengan apa adanya, sesuai dengan observasi, hasil pengukuran dan pembatasan (perera, 1991:69).
Makna denotatif didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu diluar bahasa atau didasarkan atas konvensi tertentu (kridalaksana, 1993:40).

Berdasarkan pendapat diatas, maka penulis simpulkan bahwa makna denotative adalah makna yang sebenarnya, umum, apa adanya, tidak mencampuri nilai rasa, dan tidak berupa kiasan. Apabila seseorang mengatakan tangan kanannya sakit, maka yang dimaksudkan adalah tangannya yang sebelah kanan sakit.

Makna Konotatif

Sebuah kata mengandung makna konotatif, bila kata-kata itu mengandung nilai-nilai emosi tertentu. Dalam berbahasa orang tidak hanya mengungkap gagasan, pendapat atau isi pikiran. Tetapi juga mengungkapakan emosi-emosi tertentu. Mungkin saja kata-kata yang dipakai sama, akan tetapi karena adanya kandungan emosi yang dimuatnya menyebabkan kata-kata yang diucapkan mengandung makna konotatif disamping mkna denotatif.

Makna konotatif adalah makna yang berupa kiasan atau yang disertai nilai rasa, tambahan-tambahan sikap sosial, sikap pribadi sikap dari suatu zaman, dan criteria-kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.

Seperti kata kursi, kursi disini bukan lagi tempat duduk, melaikan suatu jabatan atau kedudukan yang ditempati oleh seseorang. Kursi diartikan sebagai tempat duduk mengandung makna lugas atau makna denotatif. Kursi yang diartikan suatu jabatan atau kedudukan yang diperoleh seseorang mengandung makna kiasan atau makna konotatif.

Makna Leksikal

akna Leksikal ialah makna kata seperti yang terdapat dalam kamus, istilah leksikal berasal dari leksikon yang berarti kamus. Makna kata yang sesuai dengan kamus inilah kata yang bermakna leksikal. Misalnya : Batin (hati), Belai (usap), Cela (cacat).

Makna Gramatikal 

Makna gramatikal adalah makna kata yang diperoleh dari hasil perstiwa tata bahasa, istilah gramatikal dari kata grammar yang artinya tata bahasa. Makna gramatikal sebagau hasil peristiwa tata bahasa ini sering disebut juga nosi. Misalnya : Nosi-an pada kata gantungan adalah alat.

Makna Asosiatif

Makna asosiatif mencakup keseluruhan hubungan makna dengan nalar diluar bahasa. Ia berhubungan dengan masyarakat pemakai bahasa, pribadi memakai bahasa, perasaan pemakai bahasa, nilai-nilai masyarakat pemakai bahasa dan perkembangan kata sesuai kehendak pemakai bahasa. Makna asositif dibagi menjadi beberapa macam, seperti makna kolokatif, makna reflektif, makna stilistik, makna afektif, dan makna interpretatif.

1. Makna Kolokatif 

Makna kolokatif lebih berhubungan dengan penempatan makna dalam frase sebuah bahasa. Kata kaya dan miskin terbatas pada kelompok farase. Makna kolokatif adalah makna kata yang ditentukan oleh penggunaannya dalam kalimat. Kata yang bermakna kolokatif memiliki makna yang sebenarnya.

2. Makna Reflektif

Makna reflektif adalah makna yang mengandung satu makna konseptual dengan konseptual yang lain, dan cenderung kepada sesuatu yang bersifat sacral, suci/tabu terlarang, kurang sopan, atau haram serta diperoleh berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman sejarah.

3. Makna Stilistika

Makna stilistika adalah makna kata yang digunakan berdasarkan keadaan atau situasi dan lingkungan masyarakat pemakai bahasa itu. Sedangkan bahasa itu sendiri merupakan salah satu cirri pembeda utama dari mahluk lain didunia ini. Mengenai bahasa secara tidak langsung akan berbicara mempelajari kosa kata yang terdapat dalam bahasa yang digunakan pada eaktu komunikasi itu.

4. Makna Afektif

Makna ini biasanya dipakai oleh pembicara berdasarkan perasaan yang digunakan dalam berbahasa.

5. Makna interpretatif 

Makna interpretatif adalah makna yang berhubungan dengan penafsiran dan tanggapan dari pembaca atau pendengar, menulis atau berbicara, membaca atau mendengarkan (parera,1991:72).

Comments

Popular posts from this blog

Download Gratis: Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) Sekolah

Oleh: SBS Valid Pengertian RKJM Sekolah Rencana Kerja Jangka Menengah Sekolah, atau disingkat RKJM , adalah dokumen perencanaan strategis yang disusun oleh satuan pendidikan untuk jangka waktu empat tahun ke depan. RKJM memuat arah kebijakan dan strategi pengembangan sekolah sebagai acuan dalam mencapai visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah yang telah ditetapkan. RKJM menjadi pedoman penting dalam menyusun program dan kegiatan tahunan sekolah melalui Rencana Kerja Tahunan (RKT) . Artinya, RKJM tidak hanya menjadi dokumen perencanaan statis, tetapi juga menjadi landasan operasional yang mengarahkan langkah-langkah manajemen sekolah secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan. Tujuan Penyusunan RKJM Sekolah Penyusunan RKJM memiliki beberapa tujuan strategis, yaitu: Menjabarkan visi, misi, dan tujuan sekolah dalam bentuk program dan kegiatan yang realistis dan terukur. Menentukan prioritas pengembangan sekolah berdasarkan analisis kondisi riil dan kebutuhan mendesak. Men...

Hubungan Kegiatan Ngeblog dengan Kegiatan Literasi Siswa Kelas 9 SMP

  Oleh: SBS Valid Di era digital saat ini, kegiatan menulis tidak hanya terbatas pada media cetak, seperti buku dan majalah, tetapi telah berkembang ke dunia maya melalui blog atau platform daring lainnya. Salah satu aktivitas menulis digital yang kini semakin populer adalah ngeblog . Ngeblog adalah kegiatan membuat dan mengelola blog, yaitu media daring tempat seseorang bisa membagikan ide, cerita, opini, dan informasi kepada publik. Bagi siswa kelas 9 SMP, kegiatan ngeblog ternyata memiliki hubungan erat dengan pengembangan literasi , khususnya literasi baca-tulis.

Ringkasan Materi Cerpen – Kelas 9 SMP

  📘 Ringkasan Materi Cerpen – Kelas 9 SMP ✅ Pengertian Cerpen Cerpen (cerita pendek) adalah karya sastra fiksi berbentuk prosa naratif yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa dalam bentuk singkat dan padat , biasanya hanya berfokus pada satu konflik dan satu tokoh utama . ✅ Ciri-Ciri Cerpen Panjang cerita pendek (dibaca dalam sekali duduk). Fokus pada satu peristiwa utama . Tokoh terbatas , biasanya satu tokoh utama. Latar sempit (waktu, tempat, suasana terbatas). Alur tunggal (maju, mundur, atau campuran). Berisi pesan moral atau amanat . Menggunakan bahasa yang ringkas dan menarik . ✅ Struktur Cerpen Abstrak (opsional): Ringkasan awal cerita. Orientasi : Pengenalan tokoh, latar, dan situasi awal. Komplikasi : Munculnya konflik atau masalah. Klimaks : Puncak ketegangan cerita. Resolusi : Penyelesaian masalah. Koda (opsional): Penutup cerita, bisa berisi pesan atau perubahan tokoh. ✅ Unsur Intrinsik Cerpen ...